Ada garis tipis antara “terinspirasi” dan “maling”. Di era di mana jawaban segala umat ada di internet, godaan untuk melakukan CTRL+C dan CTRL+V itu lebih besar daripada godaan diskon tanggal kembar di e-commerce.
Bagi mahasiswa, copy-paste makalah orang lain bulat-bulat adalah jalan ninja menuju drop out. Bagi profesional (terutama developer atau desainer), asal comot kode atau gambar tanpa cek lisensi bisa bikin perusahaan kena tuntut. Tapi, munafik rasanya kalau kita bilang haram melihat karya orang lain. Di sinilah letak seninya.
Googling itu tujuannya mencari referensi, bukan mencari barang curian. Saat kamu menemukan artikel atau kode yang pas banget sama masalahmu, “seni”-nya adalah di proses sintesis. Baca, pahami logikanya, lalu tulis ulang atau modifikasi sesuai konteks masalahmu sendiri. Kalau di dunia coding, ini namanya refactoring. Kalau di dunia tulis menulis, ini namanya parafrase.
Jadikan hasil Googling itu sebagai bahan baku masak, bukan makanan siap saji yang tinggal telan. Masak ulang informasi itu dengan bumbu pemikiranmu sendiri. Dengan begitu, kamu tetap orisinal meskipun berdiri di atas pundak raksasa (baca: hasil karya orang lain). Ingat, smart people itu mengolah informasi, lazy people cuma memindahkan informasi. Kamu tipe yang mana?