Anak-anak tidak memiliki kemampuan mumpuni untuk membedakan mana konten yang tulus dan mana konten bersponsor yang dibalut oleh influencer idola mereka. Mereka secara konstan dibombardir oleh taktik pemasaran manipulatif yang mendorong konsumerisme berlebihan, mulai dari junk food hingga mainan virtual yang memanipulasi mereka agar menuntut orang tuanya. Larangan ini melindungi kemurnian psikologis anak dari mesin kapitalisme yang melihat mereka semata-mata sebagai komoditas pasar dan sumber pendapatan metrik pengiklan yang sangat menguntungkan.