Percepatan revolusi industri 4.0 yang dicanangkan melalui Peta Jalan Making Indonesia 4.0 terus berjalan. Sektor manufaktur didorong bertransformasi memakai teknologi digital di semua rantai nilai industrinya.
Staf ahli Menteri Perindustrian Bidang Iklim usaha serta Investasi Andi Rizaldi berkata momen ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya sang Indonesia yang mempunyai keunggulan dalam hal kuatnya faktor permintaan, kerangka kelembagaan yang kuat, dan perdagangan dan investasi global yang baik.
“Perkembangan teknologi artinya keniscayaan serta sempurna akan terjadi. Negara-negara yang menerapkan industri 4.0 meyakini pentingnya dukungan kebijakan pemerintah yg keseluruhan menjadi pilar krusial keberhasilan implementasi kebijakan ekonomi digital,” ujar Andi dalam siaran pers yg dikutip melalui Medcom.com, Senin (4/7).
ia menyampaikan, pemerintah sudah memutuskan inisiatif Making Indonesia 4.0 menjadi sebuah peta jalan yg terintegrasi untuk mengimplementasikan sejumlah strategi, menggunakan aspirasi besar membawa Indonesia menjadi 10 akbar ekonomi dunia di 2030.
Resiliensi perekonomian Indonesia yg cukup baik jua dinilai menjadi keliru satu potensi yang dapat dioptimalkan lewat penerapan Industri 4.0. Hal tersebut ditunjukkan oleh pertumbuhan yg lebih tinggi pada 2019 serta kontraksi yg lebih kecil di 2020 dibanding peer countries.
Potensi selanjutnya artinya menghasilkan peluang pekerjaan baru yg lebih spesifik buat mengakomodasi jumlah energi kerja yg besar . Revolusi Industri 4.0 tidak akan menghilangkan lapangan pekerjaan, melainkan memberikan jenis pekerjaan baru yg memungkinkan migrasi asal satu profesi ke profesi lainnya.
“Nantinya akan ada pergeseran profesi seseorang ke arah lebih baik yg justru akan mengangkat harkat asal pekerja itu sendiri,” tutur Andi.
dalam Making Indonesia 4.0, Kemenperin telah menetapkan tujuh sektor prioritas yakni kuliner dan minuman, otomotif, kimia, tekstil serta produk tekstil, elektronika dan indera kesehatan. ketujuh sektor ini dipilih sebab dapat memberikan kontribusi sebanyak 70 persen asal total Produk Domestik Bruto (PDB) manufaktur, 65 % ekspor manufaktur, serta 60 persen pekerja industri.
Proporsi tenaga kerja di tujuh sektor prioritas pada acara Making Indonesia 4.0 di lima tahun terakhir memberikan tren meningkat di 2015 sebesar 5,02 % serta di 2020 sebesar 5,70 persen, meski sempat dihadapkan pada syarat pandemi covid-19.
“Melihat data peningkatan tersebut, tentunya menyampaikan harapan bahwa adopsi teknologi pada tujuh sektor prioritas berpotensi menaikkan kapabilitas ekonomi nasional,” ungkap Andi.
beliau menambahkan, Indonesia artinya negara jumlah energi kerja terbanyak di global dengan jumlah 125 juta jiwa, selesainya Tiongkok, India, dan Amerika perkumpulan.
“Tentunya apabila didorong menggunakan peningkatan kualitas tenaga kerja, akan terus berdampak positif di peningkatan produktivitas sektor manufaktur, serta akan terus menyampaikan kontribusi yang baik pada pertumbuhan ekonomi nasional,” jelas Andi.
buat meningkatkan kualitas energi kerja yg mampu mengikuti keadaan dalam era Industri 4.0, Kemenperin terus mendorong pengembangan sumber Daya insan (sdm) industri melalui acara-acara primer, meliputi pendidikan vokasi berbasis kompetensi, pembangunan unit pendidikan serta training pada daerah pusat pertumbuhan industri, serta acara link and match antara global pendidikan menggunakan industri.
Andi pula menambahkan, dalam upaya mengakselerasi pengembangan sdm Industri 4.0, Kemenperin telah menjalankan training, bimbingan teknis dan tunjangan profesi terhadap 2.171 orang. Upaya lainnya ialah dengan mendorong peningkatan lapangan pekerjaan di era Revolusi Industri 4.0, diantaranya menggunakan melibatkan
Industri mungil Menengah (IKM) pada pengembangannya, contohnya dengan melakukan training e-commerce pada 13.183 IKM pada 2021 dan menggelar webinar e-smart IKM yang mendukung pemasaran IKM secara digital.
Related Post : Berdayakan Hidup Sehat, Bio Farma Kolaborasi dengan Google Cloud, Fitbit, dan ConnectedLife