Dunia profesional dan akademis zaman now lagi ramai banget sama kata-kata sakti seperti eco-friendly, natural, sustainable, atau bio-degradable. Kata-kata ini ibarat mantra sihir yang kalau ditempel di produk, harganya bisa langsung naik dua kali lipat. Sialnya, banyak perusahaan yang memakai istilah ini secara serampangan tanpa ada dasar ilmiah atau sertifikasi resmi yang jelas. Mereka dengan percaya diri mengeklaim produknya ramah lingkungan hanya karena mengandung 1% bahan organik, sementara 99% sisanya adalah zat kimia yang merusak tanah.

Di sinilah kita, sebagai mahasiswa dan profesional muda, dituntut untuk punya superpower bernama berpikir kritis (critical thinking). Jangan gampang terpesona dengan klaim sepihak yang ditulis produsen. Sebelum memuji sebuah brand, coba cari tahu dulu: apakah mereka punya sertifikasi resmi dari lembaga independen yang diakui dunia? Memeriksa keabsahan label itu bukan berarti kita cerewet atau ribet, melainkan bentuk validasi bahwa uang yang kita keluarkan benar-benar mendukung gerakan penyelamatan alam, bukan malah mendanai kebohongan publik korporasi besar. Jadilah konsumen yang jeli, karena di era digital ini, ketidaktahuan adalah pilihan, sedangkan mencari tahu adalah keharusan.