Media sosial membuka pintu selebar-lebarnya bagi orang dewasa dengan niat jahat untuk menyusup ke kehidupan anak-anak. Melalui profil palsu atau pendekatan manipulatif (grooming), predator dapat dengan mudah membangun kepercayaan, memeras, hingga mengeksploitasi anak secara seksual. Karena anak di bawah usia 16 tahun cenderung naif dan mudah percaya, mereka adalah target paling empuk. Pembatasan akses ini secara efektif memotong jalur komunikasi langsung antara predator dan calon korban, memberikan lapisan keamanan krusial yang selama ini gagal disediakan secara maksimal oleh sistem pelaporan otomatis dari platform teknologi itu sendiri.