Media sosial terus-menerus memborbardir pengguna dengan unggahan tentang betapa menyenangkannya kehidupan orang lain. Bagi anak-anak, hal ini memicu ketakutan tertinggal tren, acara, atau obrolan kelompok. Perasaan cemas ini memaksa mereka untuk terus daring agar merasa diterima oleh lingkungan sosialnya. Siklus kecemasan ini sangat melelahkan secara mental dan merampas kebahagiaan mereka. Dengan menutup akses ini secara kolektif, tekanan sosial untuk selalu update dapat dihilangkan, membiarkan anak-anak menikmati masa mudanya tanpa bayang-bayang ketertinggalan semu.
Latar Belakang Kebijakan Pembatasan Akses Media Sosial untuk Anak di bawah Usia 16 Tahun – Fenomena FOMO (Fear of Missing Out)